Sejumlah perusahaan BUMN besar disebut masuk dalam radar untuk melakukan initial public offering (IPO) dalam lima tahun ke depan. Rencana tersebut menjadi bagian dari peta jalan transformasi perusahaan pelat merah yang disusun oleh BP BUMN bersama Danantara Indonesia.
Beberapa nama yang disebut memiliki potensi untuk melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) antara lain Pegadaian, Pupuk Indonesia, Pelindo, hingga Angkasa Pura Indonesia (InJourney Airports).
Jika terealisasi, aksi korporasi tersebut berpotensi memberikan warna baru bagi pasar modal Indonesia, terutama karena sejumlah sektor yang selama ini belum terlalu dominan di IHSG akan mendapatkan representasi lebih besar.
IPO BUMN Bisa Perkuat Pasar Modal Indonesia
Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, menilai rencana IPO sejumlah BUMN dapat memberikan dampak positif terhadap pendalaman pasar modal Indonesia.
Menurutnya, struktur IHSG saat ini masih cukup terkonsentrasi pada sektor perbankan dan komoditas. Masuknya perusahaan dari sektor lain dapat membantu memperluas diversifikasi sektoral di pasar saham.
Pegadaian dan Pupuk Indonesia, misalnya, berpotensi memperkuat representasi sektor jasa keuangan serta agrikultur dan kimia.
Sementara itu, Pelindo dan Angkasa Pura dapat memberikan tambahan eksposur terhadap sektor infrastruktur. Perusahaan dengan bisnis berbasis user fee juga memiliki potensi menarik perhatian investor karena arus kasnya relatif lebih mudah diproyeksikan.
Namun, menurut Wafi, memperdalam pasar modal tidak cukup hanya dengan menambah jumlah perusahaan yang tercatat di bursa.
Kualitas free float, transparansi, serta tata kelola perusahaan juga menjadi faktor penting agar IPO benar-benar memberikan manfaat bagi pasar.
Pegadaian Dinilai Paling Siap
Dari sejumlah perusahaan yang disebut berpotensi IPO, Pegadaian dinilai menjadi salah satu entitas yang paling siap untuk melantai di bursa.
Wafi melihat model bisnis Pegadaian sudah cukup matang dengan sumber pendapatan yang relatif dapat diprediksi. Selain itu, perusahaan juga telah terbiasa menerapkan standar tata kelola yang ketat sebagai perusahaan di sektor jasa keuangan.
Kondisi tersebut membuat investor dinilai akan lebih mudah melakukan penilaian terhadap prospek bisnis Pegadaian apabila perusahaan benar-benar masuk ke pasar saham.
Berbeda dengan Pegadaian, Pupuk Indonesia memiliki tantangan yang lebih kompleks.
Salah satu faktor yang perlu diperhatikan adalah posisi perusahaan dalam penyaluran subsidi pupuk. Aspek penetapan harga dan kebijakan pemerintah menjadi faktor penting yang dapat memengaruhi kinerja perusahaan.
Sementara itu, Pelindo dan Angkasa Pura masih membutuhkan kejelasan mengenai konsesi jangka panjang serta struktur tarif agar investor dapat memperkirakan prospek pendapatan perusahaan dengan lebih percaya diri.
Menurut Wafi, perusahaan dengan model pendapatan yang lebih sederhana dan minim intervensi kebijakan biasanya akan lebih mudah mempersiapkan diri untuk IPO.
Lima Tahap Transformasi BUMN
Rencana IPO tersebut menjadi bagian dari strategi transformasi BUMN dalam peta jalan lima tahun yang disiapkan BP BUMN bersama Danantara Indonesia.
Transformasi tersebut dirancang dalam beberapa tahapan.
Tahap pertama berfokus pada konsolidasi dan restrukturisasi portofolio perusahaan. Setelah itu, tahap kedua diarahkan pada penguatan pengembangan sumber daya manusia serta budaya perusahaan.
Tahap ketiga akan mendorong percepatan inovasi dan integrasi teknologi, termasuk pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Selanjutnya, tahap keempat berfokus pada penciptaan nilai melalui aksi korporasi dan kemitraan strategis. Tahap terakhir diarahkan pada pencapaian target kinerja dengan standar global.
Dengan demikian, IPO tidak hanya dipandang sebagai cara untuk mendapatkan tambahan modal, tetapi juga menjadi bagian dari proses transformasi dan penciptaan nilai perusahaan BUMN.
Banyak BUMN Dinilai Layak Masuk Bursa
Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara Indonesia, Dony Oskaria, sebelumnya menyebut bahwa masih banyak perusahaan pelat merah yang memiliki kapitalisasi pasar cukup kuat untuk melakukan IPO.
Beberapa nama yang disebut antara lain Pegadaian, Pupuk Indonesia, Pelindo, dan Angkasa Pura.
Menurut Dony, perusahaan-perusahaan tersebut memiliki potensi untuk menjadi emiten baru di Bursa Efek Indonesia.
Meski demikian, waktu pelaksanaan IPO masing-masing perusahaan masih menjadi hal yang perlu ditunggu. Setiap BUMN tentu harus memenuhi berbagai persyaratan dari sisi fundamental, tata kelola, struktur perusahaan, hingga kondisi pasar sebelum benar-benar melantai di BEI.
IPO BUMN Jadi Angin Segar bagi Investor?
Jika rencana tersebut terealisasi, masuknya sejumlah BUMN besar ke BEI berpotensi memberikan lebih banyak pilihan investasi bagi masyarakat.
Investor tidak hanya akan mendapatkan tambahan pilihan saham dari sektor keuangan dan komoditas, tetapi juga bisa memperoleh eksposur terhadap sektor seperti infrastruktur, agrikultur, kimia, hingga jasa transportasi. okeslot
Namun, besarnya nama perusahaan tidak otomatis membuat sebuah IPO menarik. Fundamental, valuasi, prospek pertumbuhan, kualitas tata kelola, dan jumlah saham yang tersedia untuk publik tetap menjadi faktor yang perlu diperhatikan investor.
Karena itu, rencana IPO Pegadaian, Pupuk Indonesia, Pelindo, dan Angkasa Pura patut dinantikan. Jika persiapannya dilakukan secara matang, aksi korporasi tersebut bukan hanya dapat memberikan modal baru bagi perusahaan, tetapi juga membantu memperdalam dan memperluas pasar modal Indonesia.