Harga Bitcoin (BTC) kembali mengalami tekanan dalam 24 jam terakhir. Berdasarkan data pasar pada pukul 08.00 WIB, Bitcoin turun 0,50 persen ke level US$64.300, atau sekitar Rp1,15 miliar.
Penurunan Bitcoin turut diikuti pelemahan pasar kripto secara keseluruhan. Total kapitalisasi pasar aset kripto turun sekitar 0,33 persen menjadi US$2,18 triliun.
Sementara itu, dominasi Bitcoin atau BTC Dominance (BTC.D) berada di level 59,30 persen.
Bitcoin Bergerak Sideways di Kisaran $64.000
Bitcoin masih bergerak relatif mendatar di sekitar US$64.000 menjelang publikasi data Nonfarm Payrolls (NFP) Amerika Serikat.
Laporan ketenagakerjaan tersebut menjadi salah satu indikator ekonomi penting yang dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Ekonom memperkirakan ekonomi AS hanya menambah sekitar 83.000 pekerjaan pada Juli, sementara tingkat pengangguran diproyeksikan tetap berada di level 4,2 persen.
Pergerakan Bitcoin juga menunjukkan bahwa pasar masih menunggu katalis baru untuk menentukan arah berikutnya.
Data NFP Bisa Jadi Katalis Bitcoin
Pola pergerakan sebelumnya menunjukkan data tenaga kerja AS dapat memberikan dampak cukup besar terhadap Bitcoin.
Pada Juni, data NFP hanya mencatat tambahan sekitar 57.000 pekerjaan, lebih rendah dibandingkan ekspektasi pasar. Setelah laporan tersebut dirilis, harga Bitcoin sempat mengalami kenaikan sekitar 4 persen.
Namun, penguatan tersebut tidak bertahan lama dan reli akhirnya kembali mereda dalam beberapa pekan berikutnya.
Kondisi tersebut membuat data NFP terbaru menjadi perhatian investor kripto.
Jika jumlah pekerjaan yang tercipta kembali berada di bawah ekspektasi, pasar dapat mengantisipasi kemungkinan kebijakan moneter yang lebih longgar. Kondisi tersebut berpotensi menjadi katalis positif bagi aset berisiko seperti Bitcoin.
Bitcoin Masih Kesulitan Tembus Resistance $65.000
Sejak Juni, Bitcoin telah beberapa kali mencoba menembus area resistance US$65.000.
Namun, setiap kali mengalami penguatan, harga BTC masih tertahan di sekitar US$67.000 sebelum kembali terkoreksi ke area US$60.000–US$65.000.
Untuk saat ini, area US$65.000 menjadi salah satu level penting yang diperhatikan pelaku pasar.
Jika Bitcoin mampu menembus dan mempertahankan harga di atas level tersebut, peluang menuju resistance berikutnya dapat terbuka.
Sebaliknya, kegagalan mempertahankan area US$64.000 dapat meningkatkan risiko tekanan jual.
Industri Kripto Indonesia Terus Tumbuh
Di tengah pergerakan Bitcoin yang masih fluktuatif, industri aset kripto Indonesia menunjukkan pertumbuhan positif.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat jumlah akun konsumen aset keuangan digital mencapai 22,69 juta akun hingga Juni 2026.
Jumlah tersebut meningkat sekitar 1,32 persen dibandingkan Mei 2026 yang berada di level 22,40 juta akun.
Nilai transaksi aset kripto di Indonesia juga mengalami peningkatan signifikan. Transaksi tercatat mencapai Rp28,58 triliun, naik sekitar 24,20 persen dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di angka Rp23,01 triliun.
Sementara itu, transaksi derivatif aset keuangan digital meningkat 3,64 persen menjadi Rp4,19 triliun.
Data tersebut menunjukkan aktivitas investor terhadap aset digital di Indonesia masih terus berkembang.
Top Gainer dan Top Loser Kripto
Sejumlah altcoin mencatat pergerakan signifikan dalam 24 jam terakhir.
Top Gainer:
- Overtake (TAKE): +70,20 persen
- Hashflow (HFT): +65,40 persen
- Fusionist (ACE): +62,70 persen
Top Loser:
- Heima (HEI): -30,55 persen
- Dodo (DOD): -25,17 persen
- Viction (VIC): -22,70 persen
Perbedaan pergerakan yang cukup lebar tersebut menunjukkan volatilitas masih tinggi di pasar altcoin.
Prediksi Bitcoin dan Ethereum Hari Ini
Bitcoin diperkirakan masih memiliki ruang pergerakan di kisaran US$64.000 hingga US$67.500.
Sementara Ethereum (ETH) diproyeksikan bergerak di area US$1.825 hingga US$2.050.
Investor akan mencermati perkembangan data ekonomi AS serta respons pasar setelah data NFP dirilis untuk melihat arah pergerakan berikutnya.
BNB Jadi Salah Satu Altcoin yang Dipantau
BNB menjadi salah satu aset yang mendapatkan perhatian setelah berhasil menyalip Ethereum dan Solana dalam komposisi Grayscale Smart Contract Fund setelah rebalancing kuartal kedua.
Dalam komposisi terbaru, BNB memiliki bobot sekitar 30,6 persen, sementara Ethereum berada di 29,47 persen dan Solana 29,15 persen.
Perubahan komposisi tersebut menjadi salah satu perkembangan yang diperhatikan pelaku pasar terhadap ekosistem BNB.
Di sisi lain, Grayscale DeFi Fund memangkas eksposur terhadap UNI, meski Uniswap masih menjadi salah satu holding terbesar dengan bobot sekitar 34,16 persen.
Arc Bersiap Meluncur pada September 2026
Sektor tokenisasi aset juga terus berkembang. Circle mengumumkan rencana peluncuran mainnet publik Arc pada 16 September 2026.
Arc merupakan blockchain Layer-1 yang dirancang khusus untuk kebutuhan stablecoin finance.
Sejumlah nama besar disebut menjadi bagian dari validator pendiri, termasuk BlackRock, Visa, Mastercard, DTCC, Standard Chartered, Galaxy Digital, ICE, MoneyGram, dan SBI Group.
BlackRock juga disebut berpotensi menggunakan Arc untuk mendukung distribusi aset tertokenisasi BUIDL.
Plume Perkuat Posisi di Sektor RWA
Plume juga menjadi salah satu proyek yang dipantau di sektor Real World Assets (RWA).
Proyek tersebut bergabung dengan DTCC Digital Assets Solutions Industry Working Group bersama sejumlah perusahaan besar seperti Charles Schwab, Nasdaq, dan Alpaca.
Kelompok kerja tersebut membahas perkembangan layanan tokenisasi aset, termasuk aspek custody dan asset servicing.
Perkembangan tersebut menjadi bagian dari tren lebih luas dalam industri keuangan yang mulai mengadopsi teknologi blockchain untuk tokenisasi aset dunia nyata.
Pasar Kripto Menunggu Katalis Baru
Bitcoin saat ini masih bergerak dalam fase konsolidasi di sekitar US$64.000. Data NFP AS menjadi salah satu katalis penting yang dapat memengaruhi arah pasar dalam jangka pendek.
Di sisi lain, pertumbuhan transaksi aset kripto di Indonesia menunjukkan bahwa aktivitas industri tetap positif meski pasar global menghadapi volatilitas.
Investor perlu memperhatikan data ekonomi, pergerakan likuiditas, serta level support dan resistance sebelum mengambil keputusan.