Jakarta — Saham PT Indosat Ooredoo Hutchison Tbk (ISAT) menjadi salah satu perhatian utama pasar pada perdagangan Jumat (7/8/2026). Saham ISAT mencatat kenaikan 14,21% dan menjadi penguat terbesar di jajaran LQ45.
Kenaikan tersebut terjadi setelah pasar merespons positif rencana Indosat mengembangkan infrastruktur kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) melalui platform AI Factory.
Dalam proyek tersebut, Indosat menggandeng sejumlah perusahaan teknologi besar, termasuk NVIDIA, Nokia, dan Ooredoo Group. Perseroan juga dilaporkan tengah menjajaki pinjaman sekitar US$2 miliar untuk mendukung pengadaan chip AI.
IHSG Tembus Level 6.400
Penguatan saham ISAT turut memberikan dorongan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Pada penutupan perdagangan Jumat, IHSG naik 65,94 poin atau 1,04% ke level 6.409,65. Ini membuat indeks kembali menembus level psikologis 6.400.
Dari sisi sektoral, sektor infrastruktur menjadi pemimpin penguatan dengan kenaikan 2,17%. Berikutnya ada sektor bahan baku yang naik 1,63%.
Sementara itu, sektor barang konsumen non-primer menjadi satu-satunya sektor yang mengalami penurunan, yakni sebesar 0,69%.
Secara keseluruhan, sebanyak 355 saham menguat, 235 saham melemah, dan 203 saham bergerak stagnan. Nilai transaksi mencapai Rp16,46 triliun dari perdagangan sebanyak 38,07 miliar saham.
INDY dan BUMI Ikut Menguat
Di dalam indeks LQ45, saham PT Indika Energy Tbk (INDY) berada di posisi berikutnya dengan kenaikan 5,88%.
Sementara saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) juga mencatat penguatan sebesar 4,47%.
Di sisi lain, tekanan masih terlihat pada saham PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI). Saham tersebut turun 5,03% dan kembali menjadi salah satu top loser di LQ45.
Penurunan MAPI juga menjadi pelemahan ketiga secara beruntun dalam sepekan setelah sahamnya sempat mengalami lonjakan cukup tajam pada awal Agustus.
Saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) dan PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) juga melemah masing-masing sebesar 0,92% dan 0,70%.
Harga Emas Antam Turun
Di pasar komoditas domestik, harga emas Antam justru bergerak berlawanan dengan pasar saham.
Harga emas Antam turun Rp29.000 menjadi sekitar Rp2.650.000 per gram.
Investor domestik juga masih menantikan pengumuman nama Gubernur Bank Indonesia definitif. Posisi tersebut menjadi perhatian pasar karena kebijakan gubernur baru dapat menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi arah kebijakan moneter Indonesia ke depan.
Wall Street Cetak Rekor
Sementara itu, pasar saham Amerika Serikat justru merespons positif data ketenagakerjaan yang lebih lemah dari perkiraan.
Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan bahwa nonfarm payrolls Juli 2026 turun 23.000, berbanding terbalik dengan konsensus pasar yang sebelumnya memperkirakan adanya penambahan sekitar 80.000 lapangan pekerjaan.
Data tenaga kerja dari dua bulan sebelumnya juga mengalami revisi turun cukup signifikan.
Tingkat pengangguran AS memang turun tipis dari 4,2% menjadi 4,1%. Namun, penurunan tersebut turut dipengaruhi oleh melemahnya tingkat partisipasi angkatan kerja ke level terendah dalam lebih dari lima tahun.
Data tersebut justru memberikan sentimen positif bagi pasar saham karena investor melihat peluang kebijakan suku bunga The Fed menjadi lebih longgar.
Pelaku pasar menilai kemungkinan kenaikan suku bunga pada pertemuan September semakin kecil. Ekspektasi tersebut kemudian ikut mendorong indeks utama Wall Street mencetak rekor baru.
Pada penutupan perdagangan Jumat (7/8/2026) waktu AS:
- S&P 500 naik 0,62% ke 7.757,64.
- Nasdaq Composite naik 1,30% ke 26.690,62.
- Dow Jones Industrial Average naik 0,28% ke 54.036,93.
Ketiga indeks tersebut juga mencatatkan performa mingguan terbaik sejak April. S&P 500 menguat sekitar 3,6%, sementara Nasdaq Composite melonjak 5,2% sepanjang pekan. wwbola
Investor Tetap Perlu Mencermati Risiko
Pergerakan pasar pada akhir pekan menunjukkan bahwa sentimen terhadap saham teknologi dan sektor terkait AI masih cukup kuat. Rencana ekspansi AI Indosat menjadi salah satu katalis yang menarik perhatian investor domestik.
Namun, kenaikan harga saham dalam waktu singkat tidak selalu berarti tren tersebut akan terus berlanjut. Kondisi pasar global, kebijakan suku bunga, perkembangan ekonomi, serta kinerja fundamental perusahaan tetap menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan.
Catatan: Artikel ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan rekomendasi investasi. Harga saham dan aset lainnya dapat berubah sewaktu-waktu. Lakukan riset dan pertimbangan independen sebelum mengambil keputusan investasi.