Prediksi harga XRP mencapai US$27 pada akhir Oktober 2026 kembali ramai setelah teori mengenai potensi permintaan XRP dari institusi mencuat di komunitas crypto.
Target tersebut dilontarkan trader CryptoBull pada 6 Agustus 2026. Sementara itu, pendukung XRP, CryptoTank, memperkirakan bank, perusahaan, lembaga keuangan, hingga pemerintah dapat membutuhkan XRP dalam jumlah besar jika adopsi XRP Ledger (XRPL) meluas.
Namun, riset Bank for International Settlements (BIS) yang menjadi rujukan teori tersebut sebenarnya tidak membahas proyeksi harga XRP.
Teori Viral Prediksi Permintaan XRP Bisa Melonjak
CryptoTank mengklaim sebuah grafik dalam riset BIS menunjukkan sekitar 19,998 juta XRP dapat mendukung 20 miliar transaksi.
Dengan asumsi Citi memproses sekitar 20 juta transaksi per hari, ia menghitung jumlah tersebut dapat menopang sekitar 1.000 hari aktivitas transaksi bank tersebut.
Perhitungan itu kemudian diperluas ke ribuan institusi. Menurut CryptoTank, penggunaan sistem tersebut selama 80 hingga 100 tahun dapat mendorong institusi mengakumulasi XRP.
Riset BIS Punya Fokus Berbeda
Penelitian BIS sebenarnya menguji penggunaan XRP Ledger untuk memverifikasi keaslian statistik resmi, bukan menghitung kebutuhan XRP dalam sistem perbankan global.
Para peneliti menggunakan XRPL DevNet untuk mencatat fingerprint kriptografis dari data yang dikelompokkan dalam beberapa batch. Metode tersebut justru mengurangi jumlah transaksi yang diperlukan.
Dokumentasi XRPL mencatat biaya minimum transaksi standar sebesar 10 drops atau 0,00001 XRP. Dengan biaya tersebut, 20 miliar transaksi standar setara dengan sekitar 200.000 XRP dalam biaya transaksi, sebelum memperhitungkan perubahan biaya atau kebutuhan lainnya.
BIS sendiri tidak menetapkan jumlah XRP yang perlu dimiliki institusi dalam skenario tersebut.