Jakarta – Harga Bitcoin turun 16,8% sepanjang November 2025, memunculkan kembali diskusi mengenai peluang pemulihan pada Desember. Secara historis, Desember dikenal sebagai bulan yang cenderung mencatatkan penguatan, dengan rata-rata kenaikan sekitar 4,75%.
Menurut laporan cryptofrontnews, penurunan tajam pada November bukan hal baru bagi Bitcoin. Data historis menunjukkan bulan tersebut sering diwarnai volatilitas ekstrem akibat faktor makro global, termasuk pengetatan likuiditas. Kondisi pada 2025 disebut mirip dengan tahun-tahun ketika pasar mengalami deleveraging usai reli kuat sejak awal tahun.
Analis pasar juga menyoroti heatmap multi-tahun yang menunjukkan November “berwarna merah” ketika pasar memasuki fase korektif. Situasi itu sejalan dengan pergerakan Bitcoin saat ini yang menunjukkan pelemahan struktur pasar.
Meski demikian, Desember dalam banyak kasus menjadi periode pemulihan. Sejumlah tahun—seperti 2020—mencatatkan rebound signifikan setelah koreksi November ketika sentimen kembali membaik dan kondisi oversold menarik minat beli investor strategis.
Namun, data historis tetap memberikan sinyal bercampur. Tahun 2019 dan 2022 menunjukkan pelemahan November dapat berlanjut hingga Desember. Sebaliknya, tahun 2020 memperlihatkan pembalikan kuat pada bulan berikutnya.
Pergerakan Bitcoin selanjutnya diperkirakan bergantung pada dinamika menjelang akhir November. Jika tekanan jual mereda, peluang reli musiman di Desember terbuka. Namun jika koreksi berlanjut, bulan tersebut bisa meniru tren negatif pada beberapa tahun sebelumnya.
Disclaimer: Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca.