Bitcoin (BTC) kembali menunjukkan pergerakan yang rapuh di awal pekan, dengan harga masih berkutat di area tengah range setelah gagal menembus zona resistensi di sekitar US$ 88.000. Kondisi ini membuat pasar berada di dalam fase beresiko tinggi, di mana pergerakan kecil dapat dengan cepat berubah menjadi uji likuiditas ke bawah.
Analis kripto di media sosial X dengan nama samaran Killa, menyebut bahwa selama Bitcoin tidak mampu bertahan di weekly open, tekanan penurunan tetap terbuka. Menurutnya, kegagalan mempertahankan level tersebut berpotensi mendorong harga turun ke area US$ 86.300, bahkan hingga US$ 84.400, level yang dianggap sebagai target likuiditas berikutnya jika struktur melemah.
Bitcoin saat ini masih diperdagangkan di tengah range jangka pendek, kondisi yang dinilai tidak ideal untuk mengambil posisi agresif. Killa mengakui bahwa ia sempat menangkap pantulan sekitar 2 persen di area bawah, namun reli tersebut dengan cepat terkikis dan kembali mendekati titik awal.
“Pertempuran di atas US$ 88.000 telah berlangsung cukup lama tanpa hasil yang meyakinkan,” ungkap Killa.
Ia menjelaskan, tanpa adanya penerimaan harga yang jelas di atas zona tersebut, Bitcoin cenderung melanjutkan pergerakan sideways yang disertai liquidity sweep ke leve-level bawah sebelum muncul pantulan yang lebih berarti. Pola ini kerap terjadi dalam fase konsolidasi yang berkepanjangan, terutama ketika pasar kekurangan katalis kuat.
Meskipun masih memegang posisi long dari area US$ 87.500, Killa menegaskan pandangan besarnya tidak berubah. Ia tetap mengantisipasi adanya bearish retest yang bisa berlangsung hingga Februari. Perbedaannya terletak pada eksekusi, bukan arah. Jika level weekly open ditembus ke bawah, ia memilih untuk menyingkir sementara dan menunggu struktur harga yang lebih bersih sebelum kembali masuk pasar.
Sebagai langkah manajemen resiko, stop loss pada posisi long telah dipindahkan ke titik impas.
“Tidak ada alasan untuk membiarkan posisi kembali ke titik nol atau berubah menjadi kerugian apabila pasar gagal mempertahankan level kunci,” ujarnya.
Sementara itu analis lain bernama Cristian Chifoi, memetakan dua skenario utama yang menurutnya berpotensi mendominasi perjalanan Bitcoin sepanjang 2026. Keduanya sama-sama tidak ramah bagi mayoritas pelaku pasar, namun dengan mekanisme yang sangat berbeda.
Dalam skenario pertama, Bitcoin diperkirakan masih akan mencetak reli besar menuju rekor tertinggi baru pada paruh pertama 2026. Namun reli tersebut tidak akan bertahan lama. Setelah mencapai puncak baru, harga berpotensi anjlok lebih dari 60 persen dalam waktu singkat, diikuti kelanjutan penurunan pada paruh kedua tahun tersebut. Total koreksi dalam skenario ini bisa melampuai 80 persen, menyerupai bear market brutal seperti siklus-siklus sebelumnya.
“Yang memebuat skenario ini semakin destruktif adalah psikologi pasar. Narasi negatif, mulai dari isu teknologi baru seperti komputasi kuantum hingga anggapan bahwa siklus Bitcoin telah ‘rusak’, akan membuat investor ritel enggan untuk membeli, bahkan ketika harga telah jatuh dalam,” kata Chifoi.
Sementara skenario kedua menawarkan gambaran yang lebih halus, namun tidak kalah menyakitkan. Dalam versi ini, Bitcoin hanya mencetak puncak dangkal atau sekedar menembus area kisaran US$ 103.000 – US$ 120.000, sebelum kembali bergerak turun dan membentuk struktur konsolidasi besar sepanjang 2026. Harga diperkirakan akan bertahan dalam rentang luas antara US$ 80.000 hingga US$ 120.000 hingga akhir tahun.
Alih-alih terlihat seperti pasar bearish yang jelas, kondisi ini justru menciptakan kebingungan. Investor yang berharap membeli di ‘dasar siklus’ akan terus menuinggu konfirmasi penurunan lebih dalam yang tak kunjung datang. Pada saat yang sama, harga tetap terasa terlalu mahal untuk menarik minat beli agresif. Akibatnya, pasar terjebak dalam fase paling sideways panjang yang menguras kesabaran, tanpa euforia dan tanpa kapitulasi.
“Skenario kedua akan menjadi bentuk bear market yang tidak kasat mata. Tidak ada kepanikan massal, tetapi juga tidak ada keyakinan kuat untuk masuk. Justru karena tidak terlihat seperti pasar jatuh, sebagian besar investor akan memilih menunggu di luar, sehingga permintaan tetap lemah,” paparnya.
Meski memaparkan dua kemungkinan tersebut, Chifoi menyatakan bahwa ia lebih condong pada skenario pertama, yaitu reli terakhir diikuti kejatuhan tajam. Namun ia juga menekankan adanya batas invalidasi yang jelas. Jika Bitcoin hanya mencetak puncak dangkal atau gagal membentuk reli besar pada periode Januari hingga akhir Februari, maka probabilitas akan bergeser ke skenario kedua.
“Jendela waktu awal 2026 akan menjadi fase kunci untuk membaca arah pasar,” pungkas Chifoi.