Harga emas kembali mencuri perhatian pasar global sepanjang 2025. Logam mulia ini mencatat reli tajam, menembus level psikologis penting dan mengungguli banyak aset berisiko.
Di tengah tren tersebut, token emas berbasis blockchain seperti Tether Gold (XAUT) mulai mendapat sorotan sebagai alternatif eksposur emas yang lebih likuid.
Kondisi ini memunculkan perhatian besar di pasar kripto, seiring proyeksi harga emas yang diperkirakan terus menguat hingga 2026 dan berpotensi ikut mendorong daya tarik XAUT.
Sepanjang 2025, harga emas mencatat kenaikan sekitar 60% sejak awal tahun. Dalam reli tersebut, emas sempat menembus level US$3.000 hingga US$4.000 per troy ounce, mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah.
Sebaliknya, Bitcoin (BTC) justru bergerak berlawanan arah. Di periode yang sama, aset kripto terbesar itu tercatat turun sekitar 5%.
Ketimpangan kinerja ini membuat sebagian investor kembali melirik emas sebagai aset lindung nilai, terutama di tengah ketidakpastian global, pelemahan dolar AS, dan ekspektasi penurunan suku bunga.
Menariknya, teknologi blockchain yang awalnya dipopulerkan Bitcoin kini justru dimanfaatkan untuk mempermudah akses ke emas melalui tokenisasi.
XAUT dan Akses Emas Berbasis Blockchain
XAUT merupakan token kripto yang didukung emas fisik, diterbitkan oleh Tether. Setiap satu token XAUT merepresentasikan satu troy ounce emas murni yang disimpan dalam cadangan Tether.
Token ini berjalan di jaringan Ethereum (ETH) sebagai aset ERC-20 dan diperdagangkan di berbagai platform terpusat maupun terdesentralisasi.
Secara konsep, XAUT memiliki mekanisme serupa stablecoin, namun dengan emas sebagai aset dasarnya, bukan mata uang fiat.
Saat ini, XAUT merepresentasikan sekitar US$2,1 miliar nilai emas. Jumlah emas yang digunakan untuk mendukung token tersebut setara dengan sekitar 16,2 ton emas fisik atau lebih dari 1.300 batang emas.