Investor kripto di Indonesia semakin menunjukkan karakter yang jelas. Berdasarkan Indonesia Crypto & Web3 Industry Report 2025 yang dirilis oleh Indonesia Crypto Network (ICN), Coinvestasi, dan Asosiasi Blockchain Indonesia (ABI), yang melibatkan 1.851 responden lintas wilayah dan kelompok usia, adopsi kripto di Tanah Air terbukti sangat didorong oleh pengguna ritel, dengan dominasi kuat dari generasi muda, khususnya Gen Z.
Menurut laporan tersebut, sebanyak 93% responden menyatakan sudah familiar dengan aset kripto. Tingkat familiaritas ini tidak berhenti pada sekadar pengetahuan, tetapi berbanding lurus dengan penggunaan nyata. Banyak responden yang mengenal kripto juga menggunakannya secara aktif, menandakan bahwa adopsi di Indonesia bersifat praktis, bukan sekadar tren atau wacana.
Menariknya, adopsi kripto di Indonesia didominasi oleh Gen Z dan milenial. Pengguna berusia 18–24 tahun mencakup 51,8% responden. Kelompok usia 25–34 tahun menyusul dengan 29,8%. Secara gabungan, segmen usia 18–34 tahun mencapai 81,6% dari total data. Temuan ini menegaskan bahwa adopsi kripto di Indonesia terutama digerakkan oleh pengguna muda yang tumbuh di lingkungan digital.
Bagi pengguna muda yang tumbuh di ekosistem digital, kripto telah menjadi bagian dari percakapan finansial sehari-hari. Paparan terhadap kripto banyak terjadi melalui lingkungan sosial seperti teman, komunitas, media sosial, dan platform digital. Ketika kripto beredar di lingkaran sosial ini, legitimasi terbentuk secara alami dan mendorong pengguna lain untuk ikut mencoba.
Pola ini menunjukkan bahwa adopsi kripto di Indonesia sangat dipengaruhi oleh proses social learning dan peer influence. Dinamika ini membantu menjelaskan mengapa pengguna ritel mendominasi pasar, serta mengapa motivasi dan perilaku mereka memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan pasar institusional.
Mayoritas Investor Fokus Jangka Panjang
Dari sisi tujuan penggunaan, data menunjukkan bahwa pasar kripto Indonesia cenderung berorientasi investasi. Sebanyak 58,2% responden menyatakan menggunakan kripto untuk investasi jangka panjang. Aktivitas trading jangka pendek berada di posisi kedua dengan porsi 20,2%.
Motivasi lain seperti lindung nilai inflasi, spekulasi cepat, diversifikasi, maupun transfer dana tercatat jauh lebih kecil. Dengan 19 juta investor kripto di Indonesia, mayoritasnya berasal dari Gen Z dan milenial muda, temuan ini menantang anggapan bahwa pasar kripto Indonesia bersifat spekulatif semata. Sebaliknya, kripto mulai diperlakukan sebagai instrumen investasi arus utama.
Pola ini selaras dengan perilaku finansial Gen Z di Indonesia, yang cenderung memandang kripto sebagai aset portofolio setara saham atau emas, bukan sebagai alat pembayaran harian. Aktivitas trading oportunistik memang ada, tetapi bukan pendorong utama adopsi.
Penggunaan kripto untuk utilitas sehari-hari masih terbatas. Hal ini dipengaruhi oleh sistem pembayaran lokal yang sudah efisien serta kondisi makroekonomi yang relatif stabil. Meski begitu, mulai terlihat partisipasi di aktivitas seperti airdrop, staking, dan eksplorasi Web3, yang menandakan pergeseran bertahap ke penggunaan yang lebih luas.
Preferensi Kuat ke Aset Kripto Besar
Dari sisi aset, investor kripto Indonesia menunjukkan preferensi kuat terhadap aset berkapitalisasi besar. Bitcoin menjadi aset yang paling banyak dimiliki dengan selisih yang signifikan, diikuti oleh USDT, Solana, Ethereum, dan BNB hingga XRP.
Aset-aset ini menawarkan likuiditas tinggi, utilitas yang lebih jelas, serta ketahanan pasar yang lebih baik. Sebaliknya, kategori Others yang mencakup memecoin, altcoin berkapitalisasi kecil, dan token baru hanya mencatat porsi yang relatif kecil. Ini menunjukkan bahwa aset spekulatif memang ada di portofolio pengguna, tetapi bukan menjadi inti strategi investasi.
Sementara sisi geografis, distribusi investor kripto di Indonesia menunjukkan konsentrasi yang kuat di wilayah Jawa–Bali, yang menyumbang 77,6% dari total responden. Faktor seperti kepadatan penduduk, infrastruktur digital yang lebih matang, tingkat literasi finansial yang lebih tinggi, serta akses ke platform dan komunitas kripto berperan besar dalam dominasi ini.
Sumatra berada di posisi kedua, menandakan bahwa adopsi kripto tidak hanya terpusat di Jawa–Bali. Pusat-pusat ekonomi dan kota besar di Sumatra berperan penting dalam memperluas adopsi ke wilayah barat Indonesia.
Secara keseluruhan, hasil survei ini memperlihatkan bahwa pasar kripto Indonesia didorong oleh investor ritel muda yang relatif sadar risiko, berorientasi jangka panjang, dan lebih memilih aset besar yang mapan. Dominasi Gen Z bukan hanya mencerminkan tren demografis, tetapi juga menandai fase baru adopsi kripto di Indonesia yang semakin rasional dan terstruktur.