Pasar stablecoin global kini mencapai sekitar $300 miliar pada Februari 2026, dan hampir seluruhnya masih didominasi oleh dolar Amerika Serikat.
Data Tiger Research menunjukkan sekitar 99% stablecoin yang beredar saat ini dipatok pada USD, memperkuat posisi dolar dalam sistem pembayaran digital global.
Kondisi tersebut mulai memicu respons dari berbagai negara di Asia. Sejumlah pemerintah kini mendorong pengembangan stablecoin berbasis mata uang lokal sebagai upaya mengurangi ketergantungan terhadap dolar dalam transaksi digital dan ekonomi on-chain.
Jika sebelumnya banyak negara mengutamakan pengembangan central bank digital currency (CBDC), kini stablecoin berbasis mata uang domestik mulai dipandang sebagai alternatif yang lebih cepat untuk bersaing dalam ekosistem keuangan digital.
Pasar stablecoin mengalami pertumbuhan sangat cepat sejak 2018 dengan compound annual growth rate (CAGR) sekitar 750%.
Hingga Februari 2026, kapitalisasi pasar stablecoin telah mencapai sekitar $300 miliar. Namun pertumbuhan tersebut hampir sepenuhnya didorong oleh stablecoin berbasis dolar Amerika Serikat.
Sekitar 99% dari total pasokan stablecoin global saat ini dipatok pada USD, dengan produk seperti USDT dan USDC menjadi pemain utama.
Ketika pengguna membeli stablecoin berbasis dolar, dana tersebut disimpan sebagai cadangan oleh penerbit. Cadangan tersebut kemudian diinvestasikan ke aset yang dianggap aman dan likuid, salah satunya obligasi pemerintah Amerika Serikat (U.S. Treasury).
Akibat mekanisme ini, cadangan stablecoin kini menjadi bagian dari pasar obligasi pemerintah AS. Tether dan Circle, dua penerbit stablecoin terbesar, secara konsisten membeli obligasi Treasury sebagai instrumen cadangan.
Tether juga saat ini berada di sekitar peringkat ke-18 dan Circle di sekitar peringkat ke-35 dalam daftar pemegang obligasi pemerintah AS secara global.
Di saat yang sama, utang nasional AS telah mencapai sekitar $38 triliun, dengan rencana penerbitan sekitar $11 triliun obligasi Treasury baru pada 2025. Permintaan dari penerbit stablecoin pun menjadi salah satu sumber pembeli bagi instrumen utang tersebut.