
Tesla mempertahankan kepemilikan 11.509 Bitcoin (BTC) pada kuartal I 2026, di tengah volatilitas pasar kripto yang menekan nilai aset digital perusahaan. Meski masih menjadi salah satu korporasi besar pemegang Bitcoin, Tesla mencatat kerugian setelah pajak sekitar USD 173 juta atau Rp 2,98 triliun akibat penurunan harga BTC.
Dalam laporan keuangan terbarunya, penurunan ini dipicu koreksi harga Bitcoin dari sekitar USD 90.000 di awal tahun menjadi USD 68.000 pada akhir Maret 2026. Meski demikian, Tesla tetap membukukan kinerja positif di sisi operasional, dengan laba per saham mencapai 41 sen, lebih tinggi dari ekspektasi analis.
Pendapatan perusahaan juga naik 16% secara tahunan menjadi USD 22,39 miliar, didorong pertumbuhan bisnis otomotif yang mencapai USD 16,2 miliar. Tesla juga mengonfirmasi rencana peluncuran varian lebih terjangkau dari Model Y dan Model 3 untuk memperkuat daya saing di pasar kendaraan listrik global.
Namun, perusahaan masih menghadapi tekanan pasar akibat persaingan EV yang semakin ketat serta sentimen konsumen yang dipengaruhi aktivitas CEO Elon Musk di ranah politik.