Harga Bitcoin kembali menjadi perhatian setelah muncul prediksi baru yang menyebut BTC berpotensi mencapai US$255.000 atau sekitar Rp4 miliar pada akhir 2026.
Prediksi tersebut berasal dari model analisis Bitcoin Decay Channel, yaitu model logaritmik yang digunakan untuk membaca pola siklus jangka panjang Bitcoin berdasarkan pergerakan historis sebelumnya.
Analis kripto Sminston menilai Bitcoin masih memiliki peluang bergerak di kisaran US$90.000 hingga US$255.000 pada akhir tahun ini. Menurutnya, area support jangka panjang BTC masih mampu bertahan meski pasar sempat mengalami koreksi besar.
Sebelumnya, Bitcoin sempat turun sekitar 40% dari rekor tertingginya pada Oktober 2025. Namun sebagian analis percaya tren bullish jangka panjang belum sepenuhnya berakhir.
Prediksi positif juga datang dari sejumlah analis lain. Firma investasi Bernstein mempertahankan target Bitcoin di US$150.000 pada 2026 dan membuka peluang menuju US$200.000 pada 2027. Sementara co-founder BitMEX, Arthur Hayes, memprediksi BTC bisa kembali ke area US$126.000 dalam waktu dekat.
Meski demikian, risiko koreksi masih membayangi pasar. Analisis teknikal terbaru menunjukkan Bitcoin sedang membentuk pola bear flag yang berpotensi mendorong harga turun jika tekanan jual meningkat.
Data on-chain dari CryptoQuant menunjukkan area US$65.900 hingga US$70.500 menjadi support penting yang harus dijaga BTC dalam jangka pendek.
Jika level tersebut mampu bertahan, sebagian analis percaya peluang Bitcoin melanjutkan reli menuju harga lebih tinggi masih tetap terbuka.