Harga Bitcoin (BTC) masih bertahan di kisaran US$64.800 pada akhir Juli 2026 dengan kapitalisasi pasar mendekati US$1,3 triliun.
Meski terlihat positif, kondisi tersebut belum cukup membuat bisnis mining kembali menguntungkan.
Melansir dari CoinGabbar, profit penambang disebut lebih dipengaruhi oleh hashprice, biaya listrik, dan tingkat kesulitan jaringan dibanding harga Bitcoin semata.
Kombinasi faktor tersebut membuat banyak pelaku industri harus menyesuaikan strategi agar tetap bertahan.
Pada saat yang sama, network difficulty Bitcoin telah meningkat hingga sekitar 126,23 triliun, sehingga hadiah yang diperoleh setiap mesin semakin kecil.
Tekanan tersebut membuat banyak penambang menghentikan operasional karena biaya menjalankan mesin tidak lagi sebanding dengan pendapatan yang diterima.
Akibatnya, jaringan Bitcoin sempat mencatat tiga kali difficulty adjustment turun secara beruntun, kondisi yang terakhir terjadi pada 2022.
Perusahaan Mining Jual Bitcoin dan Diversifikasi ke AI
Tekanan profitabilitas juga dirasakan perusahaan mining berskala besar. Menurut CryptoRank, perusahaan mining publik telah mengurangi kepemilikan lebih dari 15.000 BTC dari posisi puncaknya untuk menjaga arus kas.
Core Scientific menjual sekitar 1.900 BTC senilai hampir US$175 juta pada Januari 2026. Bitdeer mengosongkan seluruh cadangan Bitcoin pada Februari 2026, sementara Riot Platforms melepas 1.818 BTC senilai sekitar US$162 juta pada Desember 2025.
Selain menjual sebagian aset, sejumlah perusahaan seperti Marathon Digital, CleanSpark, Hut 8, TeraWulf, dan Cipher Mining mulai memanfaatkan pusat data serta pasokan listrik yang dimiliki untuk melayani kebutuhan komputasi artificial intelligence (AI).
Langkah ini dinilai mampu menciptakan pendapatan yang lebih stabil ketika margin mining terus menipis.