Perusahaan investasi Bernstein memproyeksikan harga Bitcoin (BTC) dapat mencapai $300.000 atau sekitar Rp5,29 miliar pada akhir 2029, menggunakan kurs USD per Rp17.630. Target tersebut muncul setelah Bitcoin mencatat kenaikan sekitar 25% sepanjang Agustus.
Bernstein bahkan memperkirakan Bitcoin dapat mencapai $150.000 atau Rp2,64 miliar pada pertengahan 2027. Dalam skenario yang jauh lebih bullish, harganya berpotensi menyentuh $500.000 atau sekitar Rp8,82 miliar.
Bernstein Lihat Tiga Katalis Utama Bitcoin
Salah satu faktor yang dinilai dapat menopang Bitcoin adalah debasement trade, yaitu strategi ketika investor mencari aset yang dianggap dapat melindungi nilai kekayaan saat daya beli mata uang melemah akibat utang pemerintah dan defisit fiskal yang besar.
Dalam kondisi tersebut, Bitcoin dinilai menarik karena jumlah maksimalnya terbatas. Referensi juga membandingkan karakteristik ini dengan emas, yang kerap digunakan investor sebagai aset lindung nilai.
Katalis kedua datang dari perkembangan regulasi kripto di Amerika Serikat, khususnya Digital Asset Market Clarity Act atau CLARITY Act. Jika aturan tersebut disahkan, kerangka regulasi yang lebih jelas dinilai dapat mempermudah investor ritel dan institusi dalam membeli, menyimpan, serta memperdagangkan Bitcoin.
Faktor ketiga adalah adopsi Bitcoin oleh institusi. Produk investasi Bitcoin terus berkembang, perusahaan treasury aset digital terus mengakumulasi BTC, sementara sejumlah korporasi mulai menggunakan Bitcoin sebagai bagian dari aset treasury mereka.