Peristiwa 10 Oktober 2025 atau “10.10” masih menjadi salah satu episode besar dalam sejarah pasar crypto.
Dalam hitungan jam, Bitcoin sempat jatuh sebesar $17.000 dari sekitar $122.000 ke $105.000, sementara lebih dari $19 miliar posisi leverage terlikuidasi.
Crash tersebut berdampak pada lebih dari 1,6 juta akun trader. Besarnya likuidasi membuat 10.10 kemudian dikaitkan dengan trauma pasar yang dinilai masih memengaruhi psikologi sebagian investor Bitcoin.
Pergerakan tajam pada 10 Oktober tahun lalu terjadi ketika pasar menghadapi tekanan eksternal, sementara penggunaan leverage memperbesar dampaknya.
Dilansir dari Investing, pengumuman Presiden AS Donald Trump mengenai tarif 100% terhadap impor China, di atas tarif 30% yang sudah berlaku, banyak dianggap sebagai pemicu awal gejolak tersebut.
Ketika harga mulai turun, posisi dengan leverage tinggi terkena likuidasi secara otomatis. Penjualan paksa kemudian menambah tekanan harga dan memicu likuidasi berikutnya, menciptakan efek berantai atau cascading liquidation.
Dalam mekanisme ini, trader menggunakan dana pinjaman untuk memperbesar posisi. Potensi keuntungan memang meningkat, tetapi kerugian juga menjadi lebih besar ketika harga bergerak berlawanan.
Mengapa Mitos 10.10 Masih Membayangi Bitcoin?
Dampak 10.10 tidak berhenti pada penurunan harga. Referensi menilai peristiwa tersebut juga mengikis kepercayaan investor setelah Bitcoin sebelumnya bergerak mendekati $126.000.
Setelah crash, terjadi penarikan dana dari ETF, sementara trader yang menggunakan kontrak berjangka dan pinjaman margin menjadi kelompok yang paling terdampak.
Lebih dari 1,6 juta akun terkena likuidasi ketika posisi dengan leverage tidak lagi mampu bertahan menghadapi penurunan harga.
Karena itu, istilah “mitos 10.10” lebih tepat dipahami sebagai gambaran terhadap trauma dan kekhawatiran pasar setelah crash besar tersebut, bukan pola teknis yang memastikan Bitcoin akan kembali jatuh setiap 10 Oktober.wwbola