Harga Bitcoin (BTC) turun ke kisaran $76.700 pada Jumat (11/9). Meskipun demikian, analis masih melihat peluang kenaikan menuju $82.000 pada akhir September.
Target tersebut muncul di tengah tekanan data inflasi AS dan arus keluar ETF Bitcoin selama dua sesi berturut-turut.
Matt Mena, Senior Crypto Research Strategist 21Shares, menilai peluang Bitcoin kembali menguat masih terbuka. Menurutnya, pergerakan menuju area $82.000 pada akhir bulan memungkinkan, meski BTC berpotensi lebih dulu turun menguji $75.000.
Tekanan terhadap Bitcoin muncul setelah Producer Price Index (PPI) AS naik 0,4% sepanjang Agustus dan 5,4% secara tahunan. PPI mengukur perubahan harga yang diterima produsen dan sering digunakan untuk membaca tekanan inflasi sebelum sampai ke konsumen.
Harga energi menjadi salah satu pendorongnya dengan kenaikan 4,2%, sedangkan harga diesel melonjak 24,1%. Harga barang naik 1,1%, sementara sektor jasa mencatat kenaikan 0,1%.
Mena menilai data PPI sedikit lebih tinggi dari perkiraan, tetapi sebagian tekanan sudah diantisipasi pasar seiring kenaikan harga minyak. Dalam kondisi tersebut, Bitcoin masih berpeluang menguji $75.000 sebelum mencoba kembali menembus $80.000.
Tekanan harga juga datang dari ETF Bitcoin spot AS yang mencatat net outflow selama dua sesi berturut-turut. Berdasarkan data SoSoValue, net outflow mencapai $46,65 juta pada 8 September dan $120,24 juta pada 9 September, sehingga total dana keluar mencapai sekitar $166,89 juta.
Meski begitu, arus dana sepanjang awal September belum sepenuhnya negatif. ETF Bitcoin sebelumnya mencatat net inflow $730,87 juta pada 3 September dan $174,60 juta pada 4 September.
Dalam enam sesi perdagangan pertama September, total net inflow ETF Bitcoin masih mencapai sekitar $603,3 juta. Mena melihat aliran dana tersebut sebagai salah satu faktor yang dapat mendukung peluang BTC kembali ke atas $80.000.wwbola