Inflasi ekstrem membuat mata uang Venezuela, bolivar, hampir kehilangan fungsinya sebagai alat tukar di negara tersebut.
Tekanan itu bertambah setelah mantan presiden Nicolás Maduro ditangkap pada 3 Januari 2026 dan dibawa ke Amerika Serikat (AS). Dalam situasi tersebut, nilai bolivar terus melemah dan makin jarang digunakan dalam transaksi sehari-hari.
Di tengah keadaan ekonomi yang terus memburuk, semakin banyak warga memilih menggunakan stablecoin USDT untuk menjalankan transaksi harian dan menjaga nilai uang mereka.
Tekanan inflasi di Venezuela sudah berlangsung lama dan terasa langsung di kehidupan sehari-hari. Harga bahan makanan dan transportasi terus berubah dalam hitungan hari, sementara gaji tetap.
Dalam situasi seperti ini, menyimpan uang dalam bolivar justru dianggap merugikan karena nilainya cepat menyusut sebelum sempat digunakan.
Saat Bank Tak Berfungsi, USDT Dipakai untuk Transaksi Harian
Ketika kepercayaan terhadap bolivar runtuh dan akses perbankan makin terbatas, USDT mulai mengisi kekosongan tersebut.
Stablecoin ini dipilih karena nilainya relatif stabil mengikuti dolar AS, sehingga dinilai lebih mampu menjaga daya beli dibanding mata uang nasional. Di lapangan, USDT tidak hanya digunakan sebagai alat simpan nilai.
Warga Venezuela memanfaatkannya untuk transaksi sehari-hari, mulai dari membayar sewa rumah, jasa perawatan, transportasi, hingga kebutuhan rumah tangga. Bagi banyak orang, USDT berfungsi layaknya uang tunai, hanya dalam bentuk digital.
Situasi ini diperparah oleh pembatasan penarikan tunai dan kontrol modal yang ketat. Akses terhadap uang fisik semakin sulit, sementara sistem perbankan nasional tidak lagi mampu mendukung aktivitas ekonomi masyarakat secara normal.
USDT Mempermudah Kiriman Uang dari Luar Negeri
Selain untuk transaksi lokal, USDT juga berperan penting dalam arus remitansi. Banyak warga Venezuela bergantung pada kiriman dana dari keluarga yang tinggal di luar negeri.
Jalur perbankan konvensional sering kali mahal, lambat, atau bahkan tidak tersedia akibat sanksi dan masalah sistemik.
Dengan USDT, pengiriman dana lintas negara dapat dilakukan secara langsung ke dompet digital. Dana tersebut kemudian digunakan untuk kebutuhan harian atau ditukar sesuai kebutuhan, tanpa harus melalui proses perbankan yang rumit.
Dipakai karena Terpaksa, Bukan karena Tren Kripto
Menariknya, adopsi USDT di Venezuela berkembang tanpa dukungan regulasi kripto yang jelas. Tidak ada kebijakan resmi yang mendorong penggunaan aset digital secara nasional.
Masyarakat justru belajar secara mandiri, saling berbagi pengetahuan tentang penggunaan dompet digital dan cara menjaga keamanan transaksi.
Upaya pemerintah meluncurkan mata uang kripto nasional berbasis minyak, Petro, gagal mendapat kepercayaan publik.
Warga lebih memilih stablecoin yang tidak dikendalikan langsung oleh negara dan dinilai lebih transparan serta mudah digunakan dalam praktik sehari-hari.