Situasi ini langsung memengaruhi sentimen investor, termasuk di pasar kripto. Bitcoin (BTC), yang kerap diposisikan sebagai alternatif aset lindung nilai, berada di titik krusial.
Sejarah menunjukkan bahwa dalam fase awal krisis geopolitik, pergerakan Bitcoin sering kali dipengaruhi tekanan likuiditas sebelum narasi lindung nilai kembali diuji.
Reaksi Awal Pasar: Bitcoin Cenderung Tertekan
Dalam fase awal krisis geopolitik, pasar keuangan umumnya bereaksi defensif. Investor global meningkatkan likuiditas, memangkas leverage, dan mengurangi eksposur terhadap aset yang dianggap berisiko tinggi.
Pada fase ini, Bitcoin sering bergerak searah dengan aset berisiko lain. Tekanan jual muncul seiring penguatan dolar AS, pengetatan likuiditas, dan meningkatnya kebutuhan dana tunai.
Data historis menunjukkan bahwa dalam periode “shock awal”, Bitcoin kerap terkoreksi sebelum aset lain menemukan keseimbangan baru.
Kondisi ini menegaskan bahwa pada tahap awal krisis, pasar lebih memprioritaskan likuiditas dibandingkan narasi jangka panjang mengenai kelangkaan atau desentralisasi.
Sejarah konflik menunjukkan pola yang relatif konsisten di pasar keuangan. Pada tahap awal perang atau eskalasi besar, pasar cenderung menjual ketidakpastian terlebih dahulu, sebelum kemudian menilai ulang arah kebijakan ekonomi dan moneter.
Pasar saham biasanya mengalami tekanan di fase awal akibat meningkatnya risiko dan ketidakjelasan arah kebijakan. Namun, ketika jalur kebijakan mulai terlihat, saham dapat pulih meski konflik masih berlangsung.
Pengecualian terjadi jika perang memicu perubahan rezim ekonomi, seperti lonjakan harga energi berkepanjangan, inflasi struktural, atau resesi dalam, yang membuat pemulihan lebih sulit.
Emas memiliki rekam jejak sebagai aset yang menguat saat ketegangan meningkat. Namun, kenaikan tersebut sering kali bersifat sementara. Ketika premi risiko perang mereda dan kebijakan menjadi lebih terprediksi, harga emas kerap melepas sebagian kenaikannya, terutama jika suku bunga riil bergerak naik.
Perak cenderung bergerak lebih volatil. Logam ini dapat mengikuti emas sebagai aset lindung nilai, namun permintaan industri membuat pergerakannya lebih berfluktuasi. Sementara itu, sektor energi menjadi titik sensitif utama ketika konflik mengancam jalur pasokan global.
Lonjakan harga minyak dapat dengan cepat mengubah ekspektasi inflasi dan memaksa bank sentral memilih antara menjaga pertumbuhan atau menahan tekanan harga. Keputusan ini kemudian memengaruhi arah seluruh pasar keuangan.