Persaingan perangkat mining berbasis Ethash dan Etchash tidak lagi hanya berbicara soal siapa yang memiliki hashrate terbesar.
Konsumsi listrik, kemampuan membuang panas, kestabilan mesin, hingga biaya operasional jangka panjang justru sering menentukan apakah sebuah ASIC layak dijalankan selama 24 jam penuh.
Bombax Miner EZ100 Pro berada di kelas yang cukup serius untuk kebutuhan tersebut. Mesin ini menawarkan hashrate hingga 15.500 MH/s atau 15,5 GH/s dengan konsumsi daya sekitar 3.100 watt.
Angka itu menempatkannya sebagai perangkat berkapasitas tinggi untuk jaringan yang kompatibel dengan Ethash atau Etchash, terutama Ethereum Classic (ETC).
Kapasitas besar tersebut tetap perlu dilihat bersama biaya listrik dan kesiapan fasilitas. Mesin dengan daya lebih dari 3 kW bukan perangkat yang ideal dipasang begitu saja di sudut kamar lalu dibiarkan berjalan tanpa perencanaan.
Bombax Miner EZ100 Pro merupakan ASIC miner yang mendukung algoritma Ethash dan jaringan kompatibel, termasuk Ethereum Classic yang menggunakan Etchash.
Berbeda dari komputer atau GPU yang dapat menangani berbagai jenis tugas, ASIC mempunyai fungsi yang jauh lebih spesifik sehingga sumber daya komputasinya dapat difokuskan untuk aktivitas mining tertentu.
Salah satu aset kripto yang relevan dengan mesin ini adalah Ethereum Classic (ETC). Jaringan Ethereum Classic menggunakan Etchash dan tetap mempertahankan mekanisme konsensus Proof of Work, sehingga proses validasi jaringan masih melibatkan miner.
Direktori resmi Ethereum Classic juga mencantumkan Bombax EZ100-PRO sebagai salah satu perangkat ASIC dengan hashrate 15.500 MH/s.
Ada satu hal yang perlu dibedakan. Istilah “Ethereum miner” atau “Ethash miner” pada perangkat lama tidak berarti mesin tersebut dapat digunakan untuk mining ETH mainnet saat ini.
Ethereum telah beralih dari Proof of Work ke Proof of Stake melalui The Merge pada 2022, sehingga ETH tidak lagi ditambang menggunakan GPU maupun ASIC.
Karena itu, kompatibilitas jaringan tetap harus diperiksa sebelum menjalankan mesin.