Amerika Serikat akan menggelar pemilu midterm pada Selasa, 3 November 2026, sebuah agenda politik yang berlangsung di pertengahan periode antara dua pemilu presiden.
Menjelang agenda tersebut, analis crypto Ali Martinez menyoroti pola harga Bitcoin setelah empat midterm sebelumnya diikuti penurunan harga yang besar.
Data yang dibagikan Martinez menunjukkan Bitcoin turun 72% setelah midterm 2010, 65% pada 2014, 52% pada 2018, dan 27% pada 2022. Namun, ia menegaskan pola tersebut tidak membuktikan bahwa pemilu menjadi penyebab penurunan BTC.
Dari sisi Bitcoin, empat periode midterm yang disoroti oleh Martinez memperlihatkan pola serupa. BTC mengalami penurunan setelah pemilu 2010, 2014, 2018, dan 2022, meski besarnya penurunan berbeda pada setiap periode.
Penurunan terbesar terjadi setelah midterm 2010 sebesar 72%, disusul 65% setelah 2014, 52% setelah 2018, dan 27% setelah 2022.
Catatan kuartal IV juga menunjukkan hasil yang berbeda. Bitcoin naik 391% pada Q4 2010, tetapi mencatat penurunan 16,70% pada Q4 2014, 42,16% pada Q4 2018, dan 14,75% pada Q4 2022.
Data tersebut menunjukkan bahwa pola setelah midterm memang menarik untuk dipantau, tetapi tidak dapat digunakan sebagai kepastian arah harga Bitcoin pada 2026.