Harga Bitcoin (BTC) berisiko kembali menguji level US$81.300 menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat (AS). Analis Bitfinex memperingatkan bahwa pemulihan harga masih dibayangi tekanan jual, sementara permintaan dari pembeli belum menunjukkan penguatan signifikan.
Pada Selasa (13/10/2026), Bitcoin diperdagangkan di kisaran US$83.400 setelah turun 1,5% dalam sehari dan 3,5% selama sepekan.
Pelaku pasar kini menantikan laporan Consumer Price Index (CPI) pada 14 Oktober dan Producer Price Index (PPI) pada 15 Oktober 2026.
Kedua data inflasi tersebut berpotensi memengaruhi ekspektasi kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) serta pergerakan aset berisiko, termasuk Bitcoin.
Bitfinex Peringatkan Tekanan Jual di Area US$84.000–US$86.500
Analis Bitfinex menilai Bitcoin berhasil mempertahankan sebagian besar posisinya setelah penurunan terbaru. Namun, belum ada bukti kuat bahwa minat beli telah pulih secara signifikan.
Dalam laporan yang dikutip Bitcoin.com News, analis Bitfinex menyebut sekitar 1,45 juta BTC memiliki harga perolehan antara US$84.000 hingga US$86.500.
Kondisi tersebut berpotensi menciptakan hambatan ketika harga Bitcoin kembali naik. Sebagian investor yang sebelumnya membeli pada rentang tersebut mungkin memilih menjual saat harga mendekati modal awal mereka.
Analis juga mencatat bahwa hanya 69,6% pasokan Bitcoin yang saat ini berada dalam posisi untung, lebih rendah dibandingkan level 75% yang sebelumnya menyertai tren kenaikan berkelanjutan.
CPI AS Bisa Memicu Pengujian Ulang Support US$81.300
Bitfinex menilai hasil CPI AS menjadi salah satu faktor yang dapat menentukan apakah Bitcoin kembali menghadapi tekanan jual.
Apabila inflasi lebih tinggi dari perkiraan, pasar berpotensi meningkatkan ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga yang lebih ketat. Kondisi tersebut dapat mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan menekan permintaan terhadap aset berisiko.wwbola