
Nilai tukar rupiah ditutup melemah ke level Rp17.184 per dolar AS pada perdagangan Rabu (22/4/2026) sore. Mata uang Garuda turun sekitar 0,57% atau 98,1 poin, sejalan dengan penguatan dolar AS di pasar global serta meningkatnya ketidakpastian geopolitik.
Pelemahan rupiah juga mengikuti tren mayoritas mata uang Asia yang cenderung tertekan, meski beberapa seperti won Korea dan yen Jepang masih mencatat penguatan terbatas.
Analis menilai tekanan datang dari ketegangan di Timur Tengah, termasuk kekhawatiran gangguan jalur energi di Selat Hormuz yang menyuplai sekitar 20% minyak dan gas dunia, sehingga mendorong investor beralih ke aset aman (safe haven) dolar AS.
Dari sisi domestik, pasar juga mencermati kebutuhan pembiayaan pemerintah serta sikap Bank Indonesia yang mempertahankan suku bunga acuan di 4,75% untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan global.
Pengamat mata uang memperkirakan rupiah masih akan bergerak fluktuatif pada perdagangan berikutnya, dengan kecenderungan melemah di kisaran Rp17.180–Rp17.220 per dolar AS jika sentimen global belum mereda.