Skip to content

Situs Berita Investasi Terpercaya Rekomendasi Indonesia

Menu
Menu

Poolin Technology Ajukan Kebangkrutan Chapter 11, Utang Capai US$173 Juta

Posted on July 31, 2026

Jakarta – Poolin Technology, perusahaan yang pernah menjadi salah satu pengelola mining pool Bitcoin terbesar di dunia, resmi mengajukan perlindungan kebangkrutan Chapter 11 di Amerika Serikat. Langkah ini diambil setelah perusahaan menghadapi tekanan finansial berkepanjangan yang dipicu krisis likuiditas, penurunan pasar kripto, hingga dampak larangan penambangan Bitcoin di China.

Pengajuan kebangkrutan dilakukan pada 22 Juli 2026 di Pengadilan Kepailitan Amerika Serikat untuk Distrik New Jersey bersama dua afiliasinya, Lonestar Dream Inc. dan Lonestar Taproot LLC.

Poolin Hadapi Kewajiban Hingga Ratusan Juta Dolar

Berdasarkan dokumen pengadilan, Poolin memperkirakan memiliki antara 10.001 hingga 25.000 kreditur.

Nilai aset perusahaan induk diperkirakan berada di kisaran US$1 juta hingga US$10 juta, sementara total kewajibannya jauh lebih besar, yakni antara US$100 juta hingga US$500 juta.

Dalam dokumen restrukturisasi yang disampaikan Chief Restructuring Officer Poolin, Michael DuFrayne, total kewajiban perusahaan sebelum pengajuan kebangkrutan mencapai sekitar US$173,1 juta.

Sebagian besar berasal dari IOU (surat pengakuan utang) kepada pengguna Poolin Wallet dengan nilai sekitar US$163,7 juta.

Krisis Poolin Wallet Berawal dari 2022

Masalah utama bermula pada September 2022, ketika Poolin Wallet menghentikan sementara layanan penarikan dana akibat krisis likuiditas.

Sebagai solusi sementara, perusahaan menerbitkan IOU yang mewakili saldo pelanggan yang belum dapat dicairkan.

Saat itu, sekitar 11.700 pengguna tercatat memiliki saldo lebih dari US$100, yang hingga kini masih menjadi bagian dari proses penyelesaian dalam perkara kepailitan.

Chapter 11 Digunakan untuk Likuidasi Aset

Berbeda dengan banyak perusahaan yang menggunakan Chapter 11 untuk melakukan restrukturisasi bisnis, Poolin memilih menggunakan mekanisme tersebut untuk melikuidasi aset secara bertahap.

Perusahaan berencana:

  • Menjual aset yang dimiliki.
  • Menghentikan kegiatan operasional.
  • Menyusun rencana pembayaran kepada para kreditur.
  • Menyelesaikan klaim pemegang IOU Poolin Wallet.

Besaran dana yang nantinya diterima para kreditur masih bergantung pada hasil penjualan aset serta keputusan pengadilan.

Dua Fasilitas Tambang Bitcoin di Texas Akan Dijual

Sebagai bagian dari proses likuidasi, Poolin akan melepas dua fasilitas penambangan Bitcoin yang berada di Pyote (Ward County) dan Tarbush (Pecos County), Texas Barat.

Sebelum pengajuan kebangkrutan, aset tersebut telah dipasarkan kepada lebih dari 335 calon investor.

Proses pemasaran menghasilkan:

  • 28 perjanjian kerahasiaan (NDA).
  • 7 surat minat (Letter of Intent).
  • Tawaran awal (stalking horse bid) senilai US$52 juta.

Penawaran tersebut berasal dari Thor CALAP LLC, yang menawarkan:

  • US$15 juta untuk fasilitas Pyote.
  • US$37 juta untuk fasilitas Tarbush.

Nilai tersebut masih dapat meningkat apabila muncul penawar lain dalam proses lelang yang akan mendapat persetujuan pengadilan.

Dampak Larangan Mining Bitcoin di China

Poolin merupakan salah satu perusahaan yang berkembang pesat sejak berdiri pada 2017 dan sempat menjadi mining pool Bitcoin terbesar di dunia pada 2019.

Namun, kondisi mulai berubah setelah pemerintah China melarang aktivitas penambangan Bitcoin pada 2021.

Perusahaan kemudian memindahkan sebagian besar operasinya ke Amerika Serikat, khususnya Texas.

Sayangnya, ekspansi tersebut tidak berjalan sesuai rencana. Poolin menghadapi keterbatasan pasokan listrik, kelebihan mesin tambang, serta penurunan tajam harga aset kripto selama pasar bearish 2022.

Selain itu, perusahaan juga memiliki pinjaman sekitar US$213 juta dengan jaminan aset kripto. Ketika harga Bitcoin dan aset digital lainnya turun drastis, jaminan tersebut akhirnya dilikuidasi sehingga memperburuk kondisi keuangan perusahaan.

Industri Mining Bitcoin Masih Menghadapi Tantangan

Kasus Poolin menunjukkan bahwa industri penambangan Bitcoin masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari regulasi, biaya energi, volatilitas harga aset digital, hingga kebutuhan modal yang besar.

Ke depan, hasil proses kebangkrutan Poolin akan menjadi perhatian pelaku industri karena dapat memberikan gambaran mengenai penyelesaian kewajiban perusahaan kripto berskala besar terhadap para krediturnya.

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Posts

  • Pertumbuhan Ekosistem Kripto Indonesia Terus Meningkat, OJK Catat 22,40 Juta Akun pada Mei 2026
  • Binance vs Strategy Kembali Disorot, Siapa yang Lebih Tertekan Saat Harga Bitcoin Turun?
  • Tekanan Jual Memecoin di Binance Tembus US$1,21 Miliar, Apa Dampaknya bagi Investor?
  • Bybit Indonesia Resmi Diluncurkan, Perkuat Ekspansi Kripto Lewat Entitas Berlisensi Lokal
  • Bitcoin Bentuk Death Cross, Analis Prediksi BTC Berpotensi Turun ke US$60.200

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • July 2026
  • May 2026
  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • August 2024
  • July 2024
  • June 2024
  • May 2024
  • April 2024
  • March 2024

Categories

  • Alt Coin
  • Hot Crypto
  • Hot News
  • Solusi Investasi
  • Uncategorized
©2026 Situs Berita Investasi Terpercaya Rekomendasi Indonesia | Design: Newspaperly WordPress Theme