Skip to content

Situs Berita Investasi Terpercaya Rekomendasi Indonesia

Menu
Menu

AFX Trade Diretas, Bridge Arbitrum Kehilangan 24,15 Juta USDC

Posted on July 31, 2026

Jakarta – Protokol perdagangan derivatif terdesentralisasi AFX Trade mengalami insiden keamanan serius setelah bridge lintas jaringan (cross-chain bridge) yang dikelolanya diretas. Dalam serangan tersebut, sekitar 24,15 juta USDC berhasil dikuras dari kontrak bridge di jaringan Arbitrum.

Insiden pertama kali terdeteksi oleh perusahaan keamanan blockchain Blockaid pada 22 Juli 2026 pukul 21.30 UTC atau 23 Juli 2026 pukul 04.30 WIB. Menurut hasil investigasi awal, serangan ini tidak menyasar infrastruktur utama Arbitrum, melainkan bridge yang dioperasikan secara mandiri oleh AFX Trade.

Bridge AFX Trade Jadi Target Peretasan

Blockaid menjelaskan bahwa dana yang hilang berasal dari bridge milik AFX Trade, bukan dari native bridge Arbitrum.

Pernyataan tersebut juga diperkuat oleh salah satu pendiri Offchain Labs, Steven Goldfeder, yang memastikan transaksi mencurigakan berasal dari protokol pihak ketiga.

Dengan demikian, hingga saat ini tidak ditemukan indikasi adanya kerentanan pada jaringan inti Arbitrum.

Dugaan Private Key Validator Berhasil Dikompromikan

Berdasarkan analisis awal, pelaku diduga tidak mengeksploitasi celah pada smart contract.

Sebaliknya, penyerang diduga berhasil memperoleh private key validator yang digunakan untuk memberikan persetujuan transaksi pada bridge.

Blockaid mengungkapkan bahwa terdapat lima tanda tangan validator aktif yang digunakan untuk mengesahkan penarikan dana.

Karena seluruh tanda tangan tersebut valid secara kriptografi dan memenuhi kuorum sistem, kontrak pintar secara otomatis menganggap transaksi tersebut sah sebelum akhirnya melepaskan dana setelah melewati dispute period sekitar 200 detik.

Dana Dipindahkan ke Ethereum

Setelah berhasil keluar dari jaringan Arbitrum, dana hasil peretasan langsung dipindahkan ke blockchain Ethereum.

Pelaku kemudian menukar sekitar 24,15 juta USDC menjadi kurang lebih 12.467 ETH, dengan nilai transaksi diperkirakan mendekati US$24 juta.

Menurut Blockaid, aset hasil peretasan kini terkonsentrasi pada satu dompet Ethereum dan masih terus dipantau oleh berbagai perusahaan analitik blockchain.

Hingga saat ini belum ada konfirmasi resmi mengenai pembekuan maupun pemulihan dana yang dicuri.

Hampir Seluruh Likuiditas AFX Trade Hilang

Serangan tersebut berdampak besar terhadap operasional AFX Trade.

Dana yang hilang disebut mencakup hampir seluruh Total Value Locked (TVL) protokol pada saat kejadian.

AFX Trade sendiri merupakan platform perdagangan derivatif terdesentralisasi yang menyediakan kontrak perpetual dengan USDC sebagai aset penyelesaian utama.

Karena sebagian besar likuiditas berada pada bridge tersebut, hilangnya dana secara langsung memengaruhi kemampuan protokol dalam menyediakan layanan kepada para pengguna.

Risiko Hot Wallet dan Manajemen Private Key

Kasus ini kembali menjadi pengingat mengenai pentingnya keamanan operasional di sektor Decentralized Finance (DeFi).

Menurut para analis keamanan, penggunaan hot key atau private key yang selalu terhubung ke internet memang memudahkan operasional, tetapi memiliki risiko serangan yang jauh lebih tinggi dibandingkan cold storage.

Insiden AFX menunjukkan bahwa audit smart contract saja belum cukup untuk melindungi aset pengguna.

Beberapa aspek lain yang juga perlu diperkuat meliputi:

  • Manajemen private key.
  • Pengamanan server validator.
  • Sistem kontrol akses internal.
  • Pemantauan transaksi secara real-time.
  • Mekanisme penghentian darurat (emergency pause).

Native Bridge Arbitrum Dipastikan Aman

Blockaid dan Offchain Labs menegaskan bahwa serangan tidak berdampak pada native bridge Arbitrum maupun infrastruktur utama jaringan tersebut.

Insiden ini murni terjadi pada bridge yang dioperasikan oleh AFX Trade sebagai protokol pihak ketiga.

Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa cross-chain bridge masih menjadi salah satu target utama peretas karena menyimpan likuiditas dalam jumlah besar dan bergantung pada mekanisme otorisasi validator.

Ke depan, pelaku industri DeFi diperkirakan akan semakin memperketat sistem keamanan, khususnya dalam pengelolaan private key dan validasi transaksi lintas jaringan guna mencegah insiden serupa.

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Posts

  • Pertumbuhan Ekosistem Kripto Indonesia Terus Meningkat, OJK Catat 22,40 Juta Akun pada Mei 2026
  • Binance vs Strategy Kembali Disorot, Siapa yang Lebih Tertekan Saat Harga Bitcoin Turun?
  • Tekanan Jual Memecoin di Binance Tembus US$1,21 Miliar, Apa Dampaknya bagi Investor?
  • Bybit Indonesia Resmi Diluncurkan, Perkuat Ekspansi Kripto Lewat Entitas Berlisensi Lokal
  • Bitcoin Bentuk Death Cross, Analis Prediksi BTC Berpotensi Turun ke US$60.200

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • July 2026
  • May 2026
  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • August 2024
  • July 2024
  • June 2024
  • May 2024
  • April 2024
  • March 2024

Categories

  • Alt Coin
  • Hot Crypto
  • Hot News
  • Solusi Investasi
  • Uncategorized
©2026 Situs Berita Investasi Terpercaya Rekomendasi Indonesia | Design: Newspaperly WordPress Theme