Skip to content

Situs Berita Investasi Terpercaya Rekomendasi Indonesia

Menu
Menu

Binance vs Strategy Kembali Disorot, Siapa yang Lebih Tertekan Saat Harga Bitcoin Turun?

Posted on July 31, 2026

Binance vs Strategy kembali menjadi perbincangan di kalangan investor aset digital setelah analis on-chain CryptoQuant, Darkfost, mengungkap bahwa Strategy masih menghadapi potensi kerugian belum terealisasi (unrealized loss) yang lebih besar dibandingkan Binance. Analisis tersebut muncul di tengah aksi penjualan sebagian cadangan Bitcoin oleh Strategy untuk memenuhi kebutuhan likuiditas perusahaan.

Perbandingan kedua entitas ini menarik perhatian karena sama-sama memiliki cadangan Bitcoin dalam jumlah besar, namun dengan struktur kepemilikan yang sangat berbeda.

Strategy Masih Jadi Pemegang Bitcoin Terbesar

Menurut data yang dipaparkan Darkfost, Binance saat ini menyimpan sekitar 656.561 BTC, menjadikannya bursa kripto dengan cadangan Bitcoin terbesar di dunia.

Namun jumlah tersebut masih berada di bawah kepemilikan Strategy, perusahaan yang sebelumnya dikenal sebagai MicroStrategy, yang tercatat memiliki sekitar 843.775 BTC sebagai bagian dari strategi treasury perusahaan.

Meski demikian, Darkfost menegaskan bahwa perbandingan Binance vs Strategy tidak bisa dilihat hanya dari jumlah Bitcoin yang dimiliki.

Sebagian besar Bitcoin yang tersimpan di Binance merupakan aset milik para pengguna yang disimpan melalui layanan kustodian bursa, bukan aset perusahaan. Sementara seluruh kepemilikan Bitcoin Strategy tercatat sebagai aset perusahaan sehingga secara langsung memengaruhi kondisi neraca keuangan ketika harga Bitcoin berfluktuasi.

Binance Sudah Mengurangi Cadangan Milik Perusahaan

Darkfost menjelaskan bahwa Binance telah melepas sekitar 94 persen cadangan Bitcoin milik perusahaan pada awal 2025 sebagai bagian dari restrukturisasi bisnis dan pengalihan aset menuju stablecoin.

Sejak saat itu, mayoritas Bitcoin yang tersimpan di Binance berasal dari dana pelanggan.

Kondisi ini membuat eksposur Binance terhadap penurunan harga Bitcoin jauh lebih kecil dibandingkan Strategy yang menggunakan Bitcoin sebagai aset investasi utama perusahaan.

Strategy Dua Kali Menjual Bitcoin

Dalam waktu kurang dari dua bulan, Strategy diketahui telah melakukan dua kali penjualan Bitcoin.

Penjualan pertama dilakukan pada akhir Mei dengan melepas 32 BTC senilai sekitar US$2,5 juta.

Sementara transaksi terbaru jauh lebih besar, yakni menjual 3.588 BTC dengan nilai sekitar US$216 juta.

Darkfost menilai langkah tersebut bukan merupakan sinyal bahwa perusahaan kehilangan keyakinan terhadap Bitcoin.

Sebaliknya, penjualan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan likuiditas, termasuk pembayaran dividen sekuritas serta kebutuhan operasional perusahaan.

Harga Rata-rata Pembelian Jadi Sorotan

Faktor utama yang membuat posisi Strategy dinilai lebih tertekan adalah harga rata-rata akumulasi Bitcoin perusahaan.

Menurut analisis CryptoQuant, Strategy membeli Bitcoin dengan harga rata-rata sekitar US$75.476 per BTC.

Sementara penjualan terbaru dilakukan ketika harga Bitcoin berada di kisaran US$60.000, sehingga perusahaan diperkirakan merealisasikan kerugian sekitar 20 persen terhadap aset yang dijual.

Sebagai perbandingan, realized price seluruh cadangan Bitcoin yang berada di Binance diperkirakan hanya sekitar US$60.900, jauh lebih rendah dibandingkan harga akumulasi Strategy.

Perbedaan harga dasar tersebut membuat posisi Strategy lebih sensitif terhadap pelemahan harga Bitcoin.

Unrealized Loss Masih Menjadi Risiko

Darkfost menilai selama harga Bitcoin belum mampu kembali berada di atas harga rata-rata pembelian Strategy, perusahaan masih akan menghadapi tekanan berupa unrealized loss yang cukup besar.

Risiko tersebut juga dapat meningkat apabila perusahaan kembali menjual sebagian cadangan Bitcoin pada level harga yang masih berada di bawah harga akumulasi.

Meski demikian, hingga saat ini penjualan yang dilakukan Strategy masih dipandang sebagai bagian dari pengelolaan likuiditas perusahaan, bukan perubahan strategi investasi terhadap Bitcoin dalam jangka panjang.

Kesimpulan

Perbandingan Binance vs Strategy menunjukkan bahwa besarnya kepemilikan Bitcoin tidak selalu mencerminkan tingkat risiko yang sama. Binance memang menyimpan ratusan ribu Bitcoin, namun mayoritas merupakan aset milik pengguna.

Sebaliknya, seluruh kepemilikan Bitcoin Strategy menjadi bagian dari neraca perusahaan sehingga fluktuasi harga memberikan dampak yang jauh lebih besar terhadap kondisi keuangan perusahaan. Selama harga Bitcoin masih berada di bawah rata-rata harga pembelian, Strategy diperkirakan tetap menghadapi tekanan unrealized loss yang menjadi perhatian investor pasar kripto.

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Posts

  • Pertumbuhan Ekosistem Kripto Indonesia Terus Meningkat, OJK Catat 22,40 Juta Akun pada Mei 2026
  • Binance vs Strategy Kembali Disorot, Siapa yang Lebih Tertekan Saat Harga Bitcoin Turun?
  • Tekanan Jual Memecoin di Binance Tembus US$1,21 Miliar, Apa Dampaknya bagi Investor?
  • Bybit Indonesia Resmi Diluncurkan, Perkuat Ekspansi Kripto Lewat Entitas Berlisensi Lokal
  • Bitcoin Bentuk Death Cross, Analis Prediksi BTC Berpotensi Turun ke US$60.200

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • July 2026
  • May 2026
  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • August 2024
  • July 2024
  • June 2024
  • May 2024
  • April 2024
  • March 2024

Categories

  • Alt Coin
  • Hot Crypto
  • Hot News
  • Solusi Investasi
  • Uncategorized
©2026 Situs Berita Investasi Terpercaya Rekomendasi Indonesia | Design: Newspaperly WordPress Theme