Binance vs Strategy kembali menjadi perbincangan di kalangan investor aset digital setelah analis on-chain CryptoQuant, Darkfost, mengungkap bahwa Strategy masih menghadapi potensi kerugian belum terealisasi (unrealized loss) yang lebih besar dibandingkan Binance. Analisis tersebut muncul di tengah aksi penjualan sebagian cadangan Bitcoin oleh Strategy untuk memenuhi kebutuhan likuiditas perusahaan.
Perbandingan kedua entitas ini menarik perhatian karena sama-sama memiliki cadangan Bitcoin dalam jumlah besar, namun dengan struktur kepemilikan yang sangat berbeda.
Strategy Masih Jadi Pemegang Bitcoin Terbesar
Menurut data yang dipaparkan Darkfost, Binance saat ini menyimpan sekitar 656.561 BTC, menjadikannya bursa kripto dengan cadangan Bitcoin terbesar di dunia.
Namun jumlah tersebut masih berada di bawah kepemilikan Strategy, perusahaan yang sebelumnya dikenal sebagai MicroStrategy, yang tercatat memiliki sekitar 843.775 BTC sebagai bagian dari strategi treasury perusahaan.
Meski demikian, Darkfost menegaskan bahwa perbandingan Binance vs Strategy tidak bisa dilihat hanya dari jumlah Bitcoin yang dimiliki.
Sebagian besar Bitcoin yang tersimpan di Binance merupakan aset milik para pengguna yang disimpan melalui layanan kustodian bursa, bukan aset perusahaan. Sementara seluruh kepemilikan Bitcoin Strategy tercatat sebagai aset perusahaan sehingga secara langsung memengaruhi kondisi neraca keuangan ketika harga Bitcoin berfluktuasi.
Binance Sudah Mengurangi Cadangan Milik Perusahaan
Darkfost menjelaskan bahwa Binance telah melepas sekitar 94 persen cadangan Bitcoin milik perusahaan pada awal 2025 sebagai bagian dari restrukturisasi bisnis dan pengalihan aset menuju stablecoin.
Sejak saat itu, mayoritas Bitcoin yang tersimpan di Binance berasal dari dana pelanggan.
Kondisi ini membuat eksposur Binance terhadap penurunan harga Bitcoin jauh lebih kecil dibandingkan Strategy yang menggunakan Bitcoin sebagai aset investasi utama perusahaan.
Strategy Dua Kali Menjual Bitcoin
Dalam waktu kurang dari dua bulan, Strategy diketahui telah melakukan dua kali penjualan Bitcoin.
Penjualan pertama dilakukan pada akhir Mei dengan melepas 32 BTC senilai sekitar US$2,5 juta.
Sementara transaksi terbaru jauh lebih besar, yakni menjual 3.588 BTC dengan nilai sekitar US$216 juta.
Darkfost menilai langkah tersebut bukan merupakan sinyal bahwa perusahaan kehilangan keyakinan terhadap Bitcoin.
Sebaliknya, penjualan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan likuiditas, termasuk pembayaran dividen sekuritas serta kebutuhan operasional perusahaan.
Harga Rata-rata Pembelian Jadi Sorotan
Faktor utama yang membuat posisi Strategy dinilai lebih tertekan adalah harga rata-rata akumulasi Bitcoin perusahaan.
Menurut analisis CryptoQuant, Strategy membeli Bitcoin dengan harga rata-rata sekitar US$75.476 per BTC.
Sementara penjualan terbaru dilakukan ketika harga Bitcoin berada di kisaran US$60.000, sehingga perusahaan diperkirakan merealisasikan kerugian sekitar 20 persen terhadap aset yang dijual.
Sebagai perbandingan, realized price seluruh cadangan Bitcoin yang berada di Binance diperkirakan hanya sekitar US$60.900, jauh lebih rendah dibandingkan harga akumulasi Strategy.
Perbedaan harga dasar tersebut membuat posisi Strategy lebih sensitif terhadap pelemahan harga Bitcoin.
Unrealized Loss Masih Menjadi Risiko
Darkfost menilai selama harga Bitcoin belum mampu kembali berada di atas harga rata-rata pembelian Strategy, perusahaan masih akan menghadapi tekanan berupa unrealized loss yang cukup besar.
Risiko tersebut juga dapat meningkat apabila perusahaan kembali menjual sebagian cadangan Bitcoin pada level harga yang masih berada di bawah harga akumulasi.
Meski demikian, hingga saat ini penjualan yang dilakukan Strategy masih dipandang sebagai bagian dari pengelolaan likuiditas perusahaan, bukan perubahan strategi investasi terhadap Bitcoin dalam jangka panjang.
Kesimpulan
Perbandingan Binance vs Strategy menunjukkan bahwa besarnya kepemilikan Bitcoin tidak selalu mencerminkan tingkat risiko yang sama. Binance memang menyimpan ratusan ribu Bitcoin, namun mayoritas merupakan aset milik pengguna.
Sebaliknya, seluruh kepemilikan Bitcoin Strategy menjadi bagian dari neraca perusahaan sehingga fluktuasi harga memberikan dampak yang jauh lebih besar terhadap kondisi keuangan perusahaan. Selama harga Bitcoin masih berada di bawah rata-rata harga pembelian, Strategy diperkirakan tetap menghadapi tekanan unrealized loss yang menjadi perhatian investor pasar kripto.