Ketika harga terus turun dan tekanan jual dominan, tiba-tiba volume perdagangan melonjak sangat tinggi, sementara penurunan harga mulai melemah. Kondisi ini menjadi perhatian dalam Volume Spread Analysis (VSA) dan dikenal sebagai stopping volume.
Stopping volume bukan sekadar volume tinggi. Konsep ini melihat hubungan volume, pergerakan harga, spread candle, dan posisi harga dalam tren untuk membaca apakah tekanan jual mulai mendapat perlawanan dari permintaan.
Lantas, mengapa volume bisa melonjak saat downtrend mulai kehilangan tenaga? Kemudian, bagaimana absorption terjadi, seperti apa cirinya di chart, dan mengapa stopping volume belum tentu menandakan harga akan langsung berbalik naik?
Stopping volume adalah konsep VSA ketika volume perdagangan melonjak saat penurunan harga mulai tertahan oleh permintaan.
Istilah stopping tidak berarti downtrend langsung berhenti, tetapi menunjukkan tekanan jual mulai mendapat perlawanan dari aktivitas beli yang besar.
Di samping itu, volume tinggi saja belum cukup. Stopping volume perlu dilihat bersama posisi harga dalam tren dan perilaku candle.
Hubungan Stopping Volume dengan Volume Spread Analysis
VSA membaca hubungan antara volume, rentang candle, dan pergerakan harga. Saat downtrend, volume yang melonjak tetapi harga hanya turun sedikit dapat menunjukkan bahwa tekanan jual mulai diserap.
Dengan demikian, VSA melihat apakah volume atau effort yang besar masih menghasilkan penurunan harga yang sebanding.