Aktivitas kripto di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara (MENA) meningkat tajam di tengah ketidakpastian ekonomi dan konflik Iran.
Menurut laporan Bitcoin Policy Institute pada Jumat (4/9), nilai transaksi blockchain tahunan di kawasan tersebut diperkirakan mencapai $350 miliar pada 2025 – 2026, lebih dari tiga kali lipat dibanding sekitar $100 miliar pada 2022.
BPI menilai pertumbuhan tersebut tidak hanya berkaitan dengan konflik, tetapi juga tekanan ekonomi dan upaya sejumlah pemerintah mengembangkan pasar aset digital.
Konflik Iran kemudian ikut meningkatkan kebutuhan terhadap alternatif keuangan untuk menyimpan kekayaan dan memindahkan dana saat terjadi gangguan.
Konflik Iran Dorong Penggunaan Bitcoin
Saat konflik Israel-Iran pecah pada Juni 2025, Bitcoin awalnya ikut turun bersama aset berisiko lainnya. Menurut laporan tersebut, investor saat itu mengambil sikap risk-off, yakni mengurangi eksposur terhadap aset yang dianggap berisiko ketika ketidakpastian meningkat.
Kondisinya kemudian berubah ketika investor mulai bergeser dari aset kripto yang lebih berisiko ke Bitcoin, mendorong dominasinya di pasar kripto mencapai level tertinggi satu bulan sebesar 64,8%. Harga Bitcoin juga mulai stabil meski konflik masih berlangsung.
BPI menilai tekanan dari kenaikan harga minyak, inflasi, dan suku bunga ikut mendorong kebutuhan untuk melindungi nilai aset. Pasar kripto yang beroperasi 24 jam juga memungkinkan transaksi tetap berlangsung ketika pasar keuangan tradisional sedang tutup.