Jakarta – Harga Bitcoin (BTC) masih mampu bertahan di kisaran $65.000 setelah mengalami pemulihan sekitar 13% dari titik terendah akhir Juni 2026 yang berada di sekitar $58.000.
Meski mengalami kenaikan, sejumlah data on-chain menunjukkan bahwa pergerakan Bitcoin saat ini belum cukup kuat untuk dikategorikan sebagai awal tren bullish baru.
Analisis dari Glassnode dan CryptoQuant menunjukkan bahwa kenaikan Bitcoin saat ini lebih menyerupai relief rally, yaitu kenaikan sementara setelah tekanan jual mulai mereda, bukan pemulihan pasar yang sudah terkonfirmasi.
Salah satu faktor utama yang membuat reli Bitcoin masih dianggap rapuh adalah lemahnya permintaan di pasar spot. Sementara itu, aktivitas perdagangan lebih banyak didorong oleh pasar derivatif, khususnya kontrak futures.
Investor Bitcoin Masih Banyak Mengalami Kerugian
Berdasarkan data Glassnode, tingkat keuntungan belum terealisasi (unrealized profit) investor Bitcoin mengalami penurunan besar.
Pada puncak pasar Oktober 2025, nilai unrealized profit investor sempat mencapai sekitar $1,4 triliun. Namun, angka tersebut turun menjadi sekitar $400 miliar pada akhir Juni 2026.
Level tersebut menjadi salah satu titik terendah dalam siklus pasar Bitcoin saat ini.
Selain itu, indikator Net Unrealized Profit/Loss (NUPL) juga menunjukkan tekanan yang lebih besar dibandingkan koreksi sebelumnya pada Februari.
Meskipun harga Bitcoin berada di kisaran yang hampir sama, kondisi saat ini menunjukkan banyak Bitcoin telah berpindah tangan selama fase penurunan.
Akibatnya, rata-rata harga beli investor menjadi lebih tinggi dan menyebabkan lebih banyak pemegang BTC berada dalam posisi rugi secara belum terealisasi.
Sepanjang 2026, nilai kerugian belum terealisasi investor Bitcoin masih berada di kisaran $200 miliar hingga $300 miliar.
Kondisi tersebut berbeda dengan 2025 ketika indikator keuntungan dan kerugian investor lebih sering berada di area seimbang.
Secara historis, kondisi seperti ini sering muncul menjelang akhir fase kapitulasi pasar sebelum terbentuknya dasar harga baru.
Kenaikan Bitcoin Lebih Banyak Didukung Pasar Futures
Meski harga Bitcoin mulai pulih pada Juli, data CryptoQuant menunjukkan bahwa kenaikan tersebut belum sepenuhnya didukung oleh pembelian langsung di pasar spot.
Permintaan dari kontrak perpetual futures meningkat sekitar 30.000 hingga 50.000 BTC sepanjang Juli.
Namun, angka tersebut masih jauh dibandingkan periode April yang mencatat peningkatan permintaan hampir 250.000 BTC dan menjadi salah satu faktor pendorong reli Bitcoin menuju level $82.000.
Di sisi lain, permintaan spot Bitcoin masih mengalami tekanan.
CryptoQuant mencatat permintaan spot saat ini berkurang sekitar 200.000 BTC setiap bulan.
Sebelumnya, pada awal Juni, permintaan spot Bitcoin sempat turun hingga sekitar minus 550.000 BTC, menjadi salah satu level terendah sepanjang 2026.
Situasi ini menunjukkan bahwa kenaikan Bitcoin saat ini masih memiliki risiko tinggi karena lebih banyak bergantung pada aktivitas leverage di pasar futures.
Secara historis, reli yang didominasi futures cenderung lebih mudah mengalami pembalikan ketika sentimen pasar berubah.
Level $69.500 Menjadi Kunci Pergerakan Bitcoin
Selain melihat aktivitas investor, analis juga memperhatikan sejumlah indikator biaya rata-rata pembelian Bitcoin (cost basis) untuk menentukan kekuatan tren.
Saat ini Bitcoin masih berada di bawah beberapa level penting, yaitu:
- Short-Term Holder Cost Basis: sekitar $69.500
- True Market Mean: sekitar $76.200
- Active Realized Price: sekitar $83.500
Sementara itu, level Realized Price masih berada di bawah harga pasar, yaitu sekitar $52.900.
Level tersebut dianggap penting karena sering menjadi batas antara kondisi pasar normal dan risiko memasuki fase bearish yang lebih dalam.
Bitcoin Perlu Tembus $69.500 untuk Konfirmasi Pemulihan
Menurut analisis on-chain, area $69.500 menjadi level penting yang perlu ditembus Bitcoin.
Jika BTC mampu kembali bergerak di atas level tersebut, sebagian besar investor jangka pendek berpotensi kembali berada dalam posisi untung.
Dalam beberapa siklus sebelumnya, kondisi tersebut sering menjadi tanda awal terbentuknya pemulihan yang lebih kuat.
Namun, apabila Bitcoin kembali gagal melewati area tersebut, risiko koreksi menuju kisaran $58.000 masih terbuka.
Bahkan, jika harga turun menembus level Realized Price $52.900, beberapa analis memperkirakan Bitcoin dapat memasuki fase bear market lebih dalam dengan potensi target penurunan menuju sekitar $44.000 pada kuartal IV 2026.
Kebijakan The Fed Jadi Faktor Penting Bitcoin
Selain faktor teknikal dan on-chain, arah kebijakan Federal Reserve (The Fed) juga akan menjadi perhatian utama pasar.
Keputusan suku bunga pada pertemuan berikutnya dapat menjadi faktor yang menentukan arah Bitcoin dalam jangka pendek.
Jika kebijakan moneter lebih longgar, aset berisiko seperti Bitcoin berpotensi mendapatkan dorongan baru.
Namun, apabila suku bunga tetap tinggi lebih lama, tekanan terhadap pasar kripto masih dapat berlanjut.
Investor kini menunggu apakah Bitcoin mampu membangun momentum baru di atas $69.500 atau justru kembali menghadapi tekanan jual dalam beberapa pekan mendatang.