Skip to content

Situs Berita Investasi Terpercaya Rekomendasi Indonesia

Menu
Menu

Bitcoin Bentuk Death Cross, Analis Prediksi BTC Berpotensi Turun ke US$60.200

Posted on July 31, 2026

Jakarta – Bitcoin (BTC) kembali memunculkan sinyal teknikal yang menjadi perhatian para pelaku pasar. Berdasarkan analisis terbaru dari TradingShot di platform TradingView, aset kripto terbesar di dunia tersebut membentuk pola death cross pada grafik satu jam (1H), yang dalam beberapa bulan terakhir kerap diikuti oleh koreksi harga.

Saat analisis diterbitkan, Bitcoin diperdagangkan di kisaran US$62.600. TradingShot memperkirakan apabila tekanan jual terus berlanjut, harga BTC berpotensi terkoreksi menuju US$60.200, bahkan bisa turun hingga US$57.250 dalam skenario yang lebih bearish.

Apa Itu Death Cross?

Death cross merupakan pola analisis teknikal yang terjadi ketika moving average (MA) jangka pendek memotong ke bawah moving average jangka panjang. Pola ini sering dianggap sebagai sinyal melemahnya momentum pasar dan meningkatnya tekanan jual.

Menurut TradingShot, sinyal death cross yang muncul kali ini merupakan yang keempat dalam dua bulan terakhir dan menjadi yang pertama sejak 19 Juni 2026.

Sejak Mei, setiap kemunculan pola tersebut di grafik satu jam selalu diikuti oleh koreksi harga Bitcoin, meski penurunannya tidak selalu terjadi secara langsung.

Target Koreksi Bitcoin di US$60.200

Berdasarkan pola historis yang diamati TradingShot, koreksi setelah death cross berkisar antara 6,79 persen hingga 11,40 persen.

Jika pola serupa kembali terjadi, Bitcoin diperkirakan berpotensi turun ke area US$60.200 sebagai target koreksi moderat.

Apabila tekanan jual semakin besar, BTC bahkan berisiko menyentuh kisaran US$57.250.

Meski demikian, analis juga mengingatkan bahwa sebelum melanjutkan penurunan, Bitcoin masih berpeluang mengalami rebound jangka pendek, seperti yang sempat terjadi setelah sinyal serupa muncul pada Mei dan Juni.

Bitcoin Gagal Menembus Resistensi US$64.400

Prospek bearish Bitcoin juga diperkuat oleh kegagalannya menembus level resistensi penting di sekitar US$64.400.

Sejak awal Juli, BTC terus membentuk pola lower highs, yaitu puncak harga yang semakin rendah. Pola tersebut menunjukkan bahwa kekuatan pembeli mulai melemah sementara tekanan jual meningkat.

Pada saat laporan disusun, Bitcoin diperdagangkan di sekitar US$63.854, naik sekitar 2,6 persen dalam 24 jam terakhir dan menguat 1,3 persen dalam sepekan.

Namun, kenaikan tersebut belum cukup mengubah struktur tren yang lebih besar.

Masih Bergerak di Bawah SMA 50 dan SMA 200

Secara teknikal, Bitcoin masih berada di bawah dua indikator penting, yaitu:

  • Simple Moving Average (SMA) 50 hari: US$64.641.
  • Simple Moving Average (SMA) 200 hari: US$73.785.

Selama harga masih bergerak di bawah kedua level tersebut, tren jangka menengah hingga panjang masih dinilai cenderung bearish.

Sentimen Makro Masih Menjadi Faktor Penting

Selain faktor teknikal, pergerakan Bitcoin juga dipengaruhi kondisi makroekonomi global.

Data inflasi Amerika Serikat yang lebih rendah dari perkiraan sempat memberikan sentimen positif bagi aset berisiko.

Laporan menunjukkan:

  • Indeks Harga Konsumen (CPI) Juni turun 0,4 persen.
  • Inflasi tahunan melambat menjadi 3,5 persen.
  • Inflasi inti turun menjadi 2,6 persen.

Meski demikian, optimisme pasar tertahan setelah pemerintah Amerika Serikat dilaporkan memindahkan sekitar 3.940 BTC senilai sekitar US$244 juta, serta lebih dari 30.000 ETH, ke platform Coinbase Prime.

Walaupun perpindahan aset tersebut belum tentu berarti akan dijual, pasar tetap mengkhawatirkan potensi bertambahnya pasokan apabila aset tersebut dilepas ke pasar.

RSI Masih di Bawah Level 50

Indikator Relative Strength Index (RSI) 14 hari berada di level 45,69, yang menunjukkan momentum pasar masih relatif lemah.

Posisi RSI yang masih berada di bawah level psikologis 50 menandakan dominasi pembeli belum kembali sepenuhnya.

Kondisi ini memperkuat sinyal bearish yang muncul dari pola death cross serta kegagalan Bitcoin menembus area resistensi utama.

Prospek Bitcoin Masih Volatil

Kombinasi sejumlah indikator teknikal dan faktor makro membuat pergerakan Bitcoin dalam beberapa hari ke depan diperkirakan masih akan sangat fluktuatif.

Investor kini mencermati beberapa level penting, terutama:

  • US$64.400 sebagai area resistensi utama.
  • US$60.200 sebagai target koreksi moderat.
  • US$57.250 apabila tekanan jual semakin besar.

Selama Bitcoin belum mampu kembali menembus level resistensi penting dan bergerak di atas SMA utama, pelaku pasar diperkirakan tetap bersikap hati-hati terhadap potensi koreksi lanjutan.

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Posts

  • Pertumbuhan Ekosistem Kripto Indonesia Terus Meningkat, OJK Catat 22,40 Juta Akun pada Mei 2026
  • Binance vs Strategy Kembali Disorot, Siapa yang Lebih Tertekan Saat Harga Bitcoin Turun?
  • Tekanan Jual Memecoin di Binance Tembus US$1,21 Miliar, Apa Dampaknya bagi Investor?
  • Bybit Indonesia Resmi Diluncurkan, Perkuat Ekspansi Kripto Lewat Entitas Berlisensi Lokal
  • Bitcoin Bentuk Death Cross, Analis Prediksi BTC Berpotensi Turun ke US$60.200

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • July 2026
  • May 2026
  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • August 2024
  • July 2024
  • June 2024
  • May 2024
  • April 2024
  • March 2024

Categories

  • Alt Coin
  • Hot Crypto
  • Hot News
  • Solusi Investasi
  • Uncategorized
©2026 Situs Berita Investasi Terpercaya Rekomendasi Indonesia | Design: Newspaperly WordPress Theme